Senin, 25 April 2016

Monster itu Bernama Postpartum Depression

0

Menyambung tulisan saya sebelumnya, kali ini saya akan mengulas tentang bagaimana Postpartum Depression (PPD) itu menyerang si ibu. kisah berikut ini saya kutip dari laman facebook tentang seseorang yang istrinya pernah mengalami PPD, berikut kisahnya :

Kepada para suami, dimanapun kalian..
Perkenalkan, saya Topan Pramukti, bapak satu anak yang pernah menyaksikan istri berjuang melawan Post Partum Depression. Pernah dengar? Saya tidak akan menjelaskan secara teori, di sini saya hanya ingin memohon agar kalian duduk sebentar, luangkan waktu barang 10 menit untuk membaca cerita saya ini sampai habis. Saya mohon.
Namanya Bunga, seorang teman saya yang tentu bukan nama sebenarnya. Beberapa waktu lalu ia melahirkan anak pertamanya. Kalau kalian pikir dia sekarang sedang di puncak bahagia, kalian salah. Hari-harinya, saat ini, dilalui dengan penuh air mata dan rasa cemas. Berkali-kali dia harus melawan dirinya sendiri, saat pisau di dekatnya kerap dia todongkan pada bayinya. Berkali-kali pula dia nyaris kehilangan nyawa, sebab baginya, pilihan hanya dua: dia atau anaknya yang mati.
Suaminya kemana? Ada. Mereka tinggal satu rumah dan tidur satu ranjang. Hubungan mereka baik-baik saja dan keluarga mereka (kelihatannya) normal dan bahagia. Tak ada masalah, tak pula ada orang ketiga. Ekonomi keluarga sedang berada di titik baik, pun kesehatan, semua baik.
Namun Bunga tetap meneteskan air mata setiap hari, dia tetap sesungukan, menangis, dan butuh pertolongan. Ibu muda itu sebisa mungkin menghindarkan pandangannya dari pisau atau benda tajam apapun, karena bisikan jahat itu bisa datang kapanpun dimanapun. Bunga selalu tidur membelakangi bayinya, karena untuknya, berhadapan adalah drama berujung histeris semalaman.
Bunga gila, ya? Bukan.. Dia adalah ibu yang menderita Post Partum Depression.
Cerita lain datang dari Lala, lagi-lagi bukan nama sebenarnya. Satu dari lusinan perempuan yang menjadikan istri saya, tempat mencari pertolongan. Saya tak pernah mengenal perempuan ini, seperti saya tak pernah mengenal perempuan-perempuan pencari pertolongan lain yang berderet di daftar kontak hape istri saya. Yang saya tau, ada seorang ibu muda tiba-tiba menulis pesan pada istri saya di twitter. Meminta nomer hape karena dia butuh diselamatkan. Satu alarm yang membuat istri saya langsung memberikan kontak padahal belum kenal: dalam pesannya dia menyebut-nyebut Post Partum Depression.
Singkatnya, Lala dan istri saya berkomunikasi lewat aplikasi whatsapp. Lala mengaku sering mendapati tubuhnya membiru, dingin, dan gemetar. Dia seperti mau mati, katanya. Lala takut keramas, dia cemas saat bilas matanya harus tertutup, membuka mata dalam keadaan tak bernyawa. Lala takut keluar rumah, takut mati di jalan. Lala takut ketemu orang baru, takut dibunuh.
Lala gila, ya? Bukan.. Dia sama seperti Bunga, seorang ibu yang menderita Post Partum Depression.
Lala dan Bunga bukan cuma ada dua, mereka banyak. Istri saya kerap salah menyebut nama saking banyaknya yang harus diladeni curhat. Saking banyaknya yang tiba-tiba menelpon sambil menangis jerit-jerit. Padahal sederet nama di kontak hape kami, hanya yang diantar takdir untuk menemukan kami, sebagai sebut saja: penyintas Post Partum Depression.

Lala dan Bunga punya satu kesamaan, mereka merasa gila dan tak ada seorangpun yang peduli dengan itu. Termasuk suami. Orang yang setiap hari ada di samping mereka, satu-satunya manusia yang mereka harapkan dapat mengerti kondisi mereka, bergeming tak peduli. Mereka melawan sendirian, berjuang sendirian.
Dua setengah tahun yang lalu, istri saya adalah Lala dan Bunga. Ia pernah nyaris membunuh bayi kami. Dia, pernah hidup berhari-hari di kolong kasur karena takut mati. Saya, pernah menganggapnya sakit jiwa. Saya pernah memilih diam tidak peduli. Ia pernah berjuang melawan Post Partum Depression, sendirian.

Tapi di tengah perjuangan, dia melawan dengan sangat keras. Dia mengumpulkan artikel-artikel tentang Post Partum Depression dan memberikannya pada saya, memohon agar saya membacanya seperti yang saat ini saya lakukan pada kalian.
Istri saya menekuk lutut, mengatupkan tangan, menangis, dan memohon sejadi-jadinya agar saya mau membaca dan memahami kondisinya saat itu. Karena dia tahu, hanya saya yang bisa membantunya berjuang melawan. Menurutnya, hanya saya yang mampu menyelamatkan nyawanya dan bayi kami.
Dia memeluk saya kencang, meminta setulus yang dia bisa, membasahi dada saya dengan air mata, membiarkan hati kami yang bicara. Saat itu, dia mungkin tahu, tak ada satu katapun yang dapat meluluhkan hati saya. Belum banyak pengetahuan soal Post Partum Depression beredar di masyarakat, tak ada banyak teori yang bisa dia sodorkan untuk saya. Di mata saya, dia sakit jiwa.
Dia cuma punya mata basah dan hati yang meluluh paling luluh, tanpa bicara dia memohon, dengan sangat. Hati tetaplah hati. Mata saya ikut basah, kami berpengangan tangan dan berjuang bersama-sama.
Kami, berdua, melewati hari-hari paling sulit. Saat dimana keuangan keluarga carut marut, bayi kami merindukan ibunya, pekerjaan yang menumpuk, dan istri yang terus hidup di kolong kasur sambil menangis menggerung-gerung. Kondisi istri saya semakin tak terkendali, sudah tak dapat dihitung berapa kali tinju yang dilayangkannya ke tubuh saya, tembok yang dipukuli, dan pintu yang dibanting.
Kami, berdua, menjalani titik rumah tangga paling rapuh. Andai saja saya memilih menyerah, mungkin saat ini kami tak lagi bersama. Mungkin istri atau bayi saya sudah pergi menghadap Gusti, atau kami bertiga sedang menjalani hidup masing-masing yang entah seperti apa hancurnya. Andai saja waktu itu saya memilih menyerah, tetap tidak peduli, rumah tangga kami berakhir sudah.
Kepada para suami, dimanapun kalian..
Post Partum Depression adalah serangan depresi yang menyerang ibu paska melahirkan. Pintu masuknya, adalah depresi yang lebih ringan, atau terkenal dengan nama Baby Blues. Faktanya, 80 persen ibu yang baru melahirkan MENGALAMI BABY BLUES. Jadi mari kita simpulkan, bahwa Post Partum Depression sangat mungkin terjadi pada siapapun, termasuk istri-istri kalian.
Saya mohon, dengan sangat, kalau sampai itu terjadi, tetaplah di sana. Tetaplah di sisi perempuan yang kalian ikat dengan janji suci, peluk dia, dan ikutlah berjuang. Bertahanlah, wahai para Ayah.. Saya bersumpah atas nama Tuhan, bahwa Post Partum Depression bukanlah hal yang mudah untuk dilewati sendirian. Perempuan yang memelukmu sambil berurai air mata, benar-benar butuh pertolongan.
Cari sebanyak-banyaknya artikel tentang depresi ini, konsultasikan pada dokter atau ahli, genggam tangannya erat, terus berjalan dan menangkan perjuangan. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia.
Salam,
Topan Pramukti
Sumber : www.sujiwo.com
====================================
Cc Prakoso Bayu Adhi Widyanto
Bismillah, kelak si kecil hadir, tidak ada salahnya menyiapkan ilmu ini. Seperti katamu, hal yang demikian ini bila terjadi adalah bagian dari ujian, maka siapa saja dapat mengalaminya, termasuk istrimu ini. 5 tahun kita menantikan buah hati, dan bila Allah kehendaki ini terjadi, please stay with me, berjuang sampai menang. Saling mengokohkan pondasi taqwa dan keimanan, serta jadikan alquran sebagai penawar 


Satu lagi saya dapatkan kisah seorang ibu yang ternyata beliau adalah teman kerja di tempat pekerjaan saya sebelumnya. Dia bercerita tentang bagaimana Monster bernama Postpartum Depression itu menyerangnya. Sama halnya seperti diatas, keinginan-keinginan untuk bunuh diri atau membunuh anaknya yang kerap membayang-bayanginya.
Saya tidak akan mengulas lebih lanjut kisah beliau disini karena terlalu panjang, silahkan anda buka blognya https://langitamaravati.wordpress.com/2016/04/22/secabik-pesan-sebelum-saya-bunuh-diri




Dari sekelumit kisah diatas dapat saya ambil kesimpulan bahwa Postpartum Depression ini bukanlah hal kecil yang boleh kita biarkan ataupun kita diamkan. Harus ada penanganan khusus terlebih dukungan dari keluarga dekat terutama suami terhadap si ibu. Tidak ada satupun seorang ibu yang menginginkan hal ini terjadi, untuk itu ada baiknya kita sampaikan tentang Baby Blues Syndrome atau Postpartum Depression kepada kerabat sebelum si ibu melahirkan karena kita tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Saya tidak mengalami PPD tapi saya sendiri mengalami bagaimana Baby Blues Syndrome itu terjadi, seperti yang saya sampaikan sebelumnya Baby Blues Syndrome dialami 14 hari pasca melahirkan, dan ya saya mengalami itu. Saya mengalami ketika saya takut malam datang karena si anak bangun dan menyusui, yang mana ketika itu menyusui adalah ketakutanku yang terbesar, saya takut menyusui dan saya takut terjadi sesuatu pada anak terlebih ketika anaku kuning sampai saya katakan "saya akan berikan anak ini kepada orang lain untuk dirawat" karena saya merasa tidak mampu menjadi seorang ibu, saya sempat menangis sendiri, entah kenapa rasanya dengan menangis beban saya hilang. Dan ya saya termasuk orang yang beruntung -alhamdulillah- saya tidak mengalami Baby Blues yang berkelanjutan (Postpartum Syndrome). Baby Blues itu berlalu karena dukungan dari keluarga terutama suami yang senantiasa mendampingi, senantiasa memberikan pengertian, senatiasa mendengarkan, senantiasa memeluk dan menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dalam hal ini saya benar-benar takut terjadi sesuatu pada ibu penderita PPD, saya tidak ingin bayi yang tidak berdosa menjadi korban dari ganguan psikologis seseorang. Saya berharap semoga Allah selalu melindungi mereka -Aamiin Ya Robbal Alamin-




Kamis, 21 April 2016

Baby Blues Sydrome or Postpartum Depression ?

2

Image result for arti baby bluesKata Baby Blues mungkin tidak asing lagi bagi sebagian ibu yang pernah mengalami kelahiran. Suatu sindrom yang dilansir banyak dialami oleh sekitar 50% - 80% wanita pasca melahirkan.

Apakah Baby Blues itu ?? Berbahayakah ???? 

Baby Blues Syndrome atau yang dikenal juga dengan sebutan Postpartum Distress Syndrome adalah suatu kondisi dimana muncul perasaan gundah atau perasaan sedih yang di alami oleh para ibu pasca melahirkan. Kondisi ini biasanya terjadi pada 14 hari pertama pasca melahirkan dan cenderung memburuk pada 3 ata 4 hari pasca melahirkan.

Banyak kalangan menilai adalah hormon yang menyebabkan ibu mengalami baby blues syndrome. Pada saat kehamilan, ibu banyak mengalami perubahan besar baik fisik maupun non fisik termasuk di dalamnya perubahan hormon. Begitu juga pasca melahirkan, perubahan tubuh dan hormon kembali terjadi lagi. Perubahan-perubahan yang kembali terjadi pada diri anda akan sangat mempenngaruhi perasaan ibu. Penurunan secara drastis kadar hormon estrogen dan progesteron serta hormon lainnya yang di produksi oleh kelenjar tiroid akan menyebabkan ibu sering mengalami rasa lelah, depresi dan penurunan mood.
Selain hormon, hadirnya si kecil yang harus betul-betul diawasi, dipenuhi perhatiannya, diasuh siang dan malam banyak menguras tenaga ibu, sehingga ibu mengalami keletihan dan kurang waktu istirahat. Perubahan pola hidup ini juga sebagai faktor banyak ibu pasca melahirkan mengalami depresi. Selain itu kecemasan yang menghantui para ibu, kecemasan akan masa depan anak, kecemasan apakah mampu atau tidaknya membesarkan anak dengan baik, dan kecemasan lainnya yang menghantui ibu juga bisa memicu baby blues syndrome.

Beberapa Gelaja pada Kasus Baby Blues Syndrome :

  1. Menangis tanpa sebab yang jelas
  2. Mudah kesal
  3. Lelah
  4. Cemas
  5. Tidak sabaran
  6. Enggan memperhatikan si bayi
  7. Tidak percaya diri
  8. Sulit beristirahat dengan tenang
  9. Mudah tersinggung

Bagaimana dengan Postpartum Depression ? Apakah Postpartum Depression itu ?

Sama halnya dengan Baby Blues Syndrome, Postpartum Depression adalah suatu kondisi dimana si ibu pasca melahirkan mengalami perasaan gundah, kekhawatiran yang berlebih, ketakutan, cepat marah, mudah putus asa, timbul perasaan tidak mampu menjadi ibu yang baik. Penyebabnya pun kurang lebih sama dengan gejala Baby Blues Syndrome seperti karena perubahan hormon, tekanan menjadi ibu baru, kurangnya bantuan dari keluarga, merasa terisolasi, kurangnya tidur bahkan riwayat keluarga terkait dengan depresi. Adapun perbedaan antara Baby Blues Syndrome dengan Postpartum Depression terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala tersebut. Jika pada Baby Blues Syndrome hanya dialami 14 hari pertama pasca kelahiran sedangkan pada Postpartum Depression, gejala tersebut akan lebih sering, lebih hebat serta lebih lama.

Bagaimana cara membedakannya?

Sebenarnya caranya mudah. Salah satunya adalah dengan memperhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita Baby Blues Syndrome (BBS). Namun jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, maka mungkin tingkat depresinya sudah termasuk ke dalam Postpartum Depression (PPD). Jika ibu mengalami Postpartum Depression disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, karena dikhawatirkan ketidakmampuan si ibu mengontrol diri, bahkan dapat melukai dirinya sendiri ataupun bayinya.

Bagaimana Mengatasi Baby Blues Syndrome atau Postpartum Depression ??

Baby Blues Syndrome memang bisa dikatakan gejala normal ibu pasca melahirkan. Namun kondisi tersebut cukup menyiksa bagi ibu. Oleh karena itu di perlukan kiat-kiat untuk menghindari atau meminimalisir kondisi akibat baby blues synrome tersebut. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
  • Lakukan persiapan yang matang sebelum melahirkan. Persiapan di sini bisa meliputi persiapan fisik (perlengkapan bayi, dana, dll) maupun persiapan mental. Karena seorang ibu yang sudah matang dan siap dalam menghadapi persalinan, maka mental ibu akan terasah tatkala ibu memiliki buah hati baru.
  • Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan seputar bayi. Pengetahuan bisa di dapat melalui buku, majalah, forum atau situs-situ bayi. 
  • Support dari keluarga sangat penting terutama dari suami guna menghindarkan ibu terkena baby blues syndrome. Berkeluh kesahlah pada suami, berbagi tugas dan tanggung jawablah dengan suami akan meringankan beban ibu
  • Berisitirahatlah selagi kesempatan untuk beristirahat itu ada. Merawat bayi memerlukan perhatian ekstra. Dibutuhkan tenaga dan pikiran yang tidak sedikit yang dapat membuat ibu sangat letih. Oleh karena itu jika ada waktu istirahat manfaatkan dengan baik, atau mintalah pengasuhan sebentar baik oleh suami atau keluarga lainnya untuk memberikan anda waktu untuk beristirahat.
  • Berbagi pengalaman dengan ibu-ibu yang lain dipercaya dapat mengurangi beban ibu pasca melahirkan. Anda bisa melakukan hal ini dengan berbagai komunitas ibu yang ada.
  • Perhatikan pola makan anda. jaga kebutuhan nutrisi dan vitamin bagi ibu. Selain untuk kualitas ASI, nutrisi dan vitamin yang terpenuhi akan membuat ibu makin tampil sehat pula.
  • Be positf. Buang jauh-jauh perasaan negatif tentang apa pun itu. Hidup akan terasa ringan jika anda selalu berpikiran positif.
  • Jangan lupa berdoa, berserahlah kepada Yang Maha Kuasa karena segala sesuatu pasti ada di TanganNya. Berdoalah agar kehidupan anda keluarga, dan anak anda senantiasa dalam lindungan dan berokahNya.

Kamis, 14 April 2016

Empat Perkara yang akan ditanyakan Di Padang Mahsyar

1

Image result for padang mahsyarHari ini alhamdulillah -segala puji bagi Allah- saya dapat ilmu lagi dari kakak saya yang sholeh (semoga Allah selalu merahmati beliau).. sebuah ilmu yang membuat saya untuk berfikir ulang mengenai kehidupan, apa yang telah saya kerjakan selama hidup didunia ini.

Berikut sedikit ulasan rekaman video dari Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas :

EMPAT PERKARA YANG DITANYAKAN KETIKA DI  PADANG MAHSYAR

Bismillah,
Segala puji dan sanjungan hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita berupa nikmat Islam, iman, dan amal sholeh. Shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhir zaman. Amma Ba’du

Setiap Muslim wajib mengenal Hari Akhir atau Hari Kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di Padang Mashyar.

Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut? Apa saja yang akan terjadi pada saat itu?
Pada saat itu manusia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini. Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal, yaitu Allah Ta’ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Karena Allah Ta’ala telah menganugerahkan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangat wajar apabila Dia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan badannya untuk apa ia gunakan.” (HR Tirmidzi dan Ad-Darimi).

1. UMUR
Umur adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari manusia. Bila kita berbincang-bincang tentang umur, maka berarti kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Al-Qur’an telah bersumpah dengan waktu: ”Demi masa”, maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu yang diberikan Allah adalah 24 jam dalam sehari-semalam. Untuk apa kita gunakan waktu itu? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk yang lain, yang sia-sia?

Diantara sebab-sebab kemunduran umat Islam ialah bahwa mereka tidak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal yanag bermanfaat, sebagian besar waktunya untuk bergurau, bercanda, ngobrol tentang hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan terkadang membawa kepada perkataan yang tidak berarti dan pertikaian. Sementara orang-orang kafir menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka maju dalam berbagai bidang kehidupan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keadaan umat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada di antara mereka yang tidak mengerti ajaran agamanya dan ada yang tidak mengerti ilmu pengetahuan umum. Bahkan ada di antara mereka yang buta huruf baca tulis Al-Qur’an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal, maka seharusnyalah kita bertanya kepada diri masing-masing. Sudah berapa umur kita hari ini dan apa yang sudah kita ketahui tentang Islam, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini? Janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi.

2. ILMU
Yang membedakan antara Muslim dan kafir adalah ilmu dan amal. Orang Muslim berbeda amalannya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermuamalah dan lain-lain. Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar menuntut ilmu. Allah ta'ala berfirman:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az-Zumar [39] : 9)

Ayat ini kendatipun berbetuk pertanyaan tetapi mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama hukumnya adalah wajib atas setiap individu Muslim, misalnya tentang membersihkan najis, berwudhu yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang dilaksanakan setiap hari. Karena bila ia tidak tahu, maka amalannya akan tertolak, dan Allah akan bertanya kenapa ia mengikuti apa yang tidak ia ketahui, seperti dalam firman-Nya:  "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra [17] : 36)

Ilmu yang sudah dipelajari oleh umat Islam harus digunakan untuk kepentingan Islam. Ilmu yang sudah dituntut dan dipelajari wajib diamalkan menurut syariat Islam. Ilmu tidak akan berarti apa-apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila manusia mengamalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap-tiap orang dimudahkan menurut apa-apa yang Allah ciptakan atasnya.” (HR Muslim)

3. HARTA
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.” (HR At-Tirmidzi dan Hakim)

Harta pada hakikatnya adalah milik Allah Ta’ala. Harta adalah amanat Allah yag dilimpahkan kepada umat manusia agar dia mencari harta itu dengan halal, menggunakan harta itu pada tempat yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Bila kita amati keadaan umat Islam saat ini, banyak kita dapati di antara mereka yang tidak perduli lagi dengan cara mengumpulkan hartanya, apakah dari jalan yang halal atau jalan yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meramalkan hal ini dengan sabdanya: ”Nanti akan datang suatu masa, di masa itu manusia tidak perduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.” (HR Al-Bukhari)

Setiap Muslim harus hati-hati dalam mencari mata pencaharian hidupnya karena banyak manusia yang terdesak masalah ekonomi lalu ia hingga tidak perduli lagi dari mana harta itu ia peroleh. Ada yang memperoleh harta dari usaha-usaha yang batil, misalnya hutang tidak dibayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dan lain sebagainya. Orang yang mencari usaha dari yang haram akan mendapat siksa dari Allah, seperti disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ”Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Neraka itu lebih patut baginya (sebagai tempat).” (HR Al-Hakim).

Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita infaqkan pada jalan yang benar pula. Bila tadi disebutkan bahwa harta itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu untuk dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Di dalam Al-Qur’an ada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat, yaitu para fuqara (orang fakir), masakin (orang miskin), amil (pengurus zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), untuk membebaskan budak, orang-orang yang berhutang, untuk perjuangan di jalan Allah (jihad fii sabilillah) dan orang yang sedang dalam perjalanan (musafir). Di masa-masa sekarang ini ada beberapa kelompok yang masuk prioritas ulama yang berhak mendapatkan infaq dan shadaqah, yaitu folongan fuqara, masakin danorang yang berjuang di jalan Allah.

Orang fakir adalah orang yang butuh, tetapi tidak mempunyai pekerjaan, sedangkan hidupnya digunakan untuk membantu agama Islam. Jadi orang fakir yang dibantu adalah orang yang hidupnya untuk berjuang di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha dan tidak melaksanakan syariat Islam. Sedangkan orang miskin adalah orang yang berusaha, tetapi usahanya hanya mencukupi kebutuhan minimalnya dalam keluarganya untuk makan sehari-hari.

4. BADAN
Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang diberikan Allah, manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi, manusia dibebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani manusia ini dituntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam rangka mengabdi kepada Allah. Letihnya manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah akan diganjar dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka bermain-main, mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sia-sia letihnya itu, bahkan ada yang akan diganjar dengan api Neraka, karena mereka termasuk orang-orang yang celaka, sebagauna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:”Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat dan tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya, maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang letihnya bukan karena melaksanakan sunnahku, maka dia termasuk orang yang binasa.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Demikianlah, pada hari mashyar masing-masing manusia akan diminta pertanggung jawaban atas segala perbuatan yang telah dikerjakannya selama hidupnya di dunia. Sudah siapkan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Kalau belum, kapan lagi kita memperisapkan diri kalau tidak sekarang?

Segala puji bagi Allah, Penguasa sekalian alam, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

sumber : abuayaz.blogspot.co.id


Rabu, 06 April 2016

Dilemanya Seorang Ibu Pekerja

0

hehehe judulnya aja sudah Dilema artinya cerita dibawah ini bakal sedikit membuatmu kebingungan.. ya ya ya #korbaninitalkshow hahaha secara i am a working mom dan sedikit curhatan emak pekerja, yang mana mungkin dialami semua para ibu pekerja.

hari ini dapet cerita lagi dari teman kerja (ceritanya pas lagi Rapat Anggota Tahunan koperasi,, hihihi duduknya dibelakang sih jadi bawaannya pengen ngobrol haha #alesan. Seperti biasa yang diceritakan ya ga jauh-jauh tentang masalah anak.. maklum baru jadi emak bawaannya penasaran mulu.
berikut sedikit ringkasan cerita hasil wawancara  tentang dilemanya para ibu pekerja. begini ceritanya #uhuk-uhukdulu

1. Ibu A.
    beliau bekerja satu divisi denganku, suaminya pun bekerja disini tepatnya di anak perusahaan kami. setelah 3 bulan menikah ibu A. mempunyai seorang anak laki-laki. kini si kecil berusia sekitar 13 bulan.
pagi si anak selalu diantar ke rumah neneknya dan sore pulang kerja selalu dijemput. beliau bercerita satu moment pergi jalan2. si kecil duduk di stroller tiba2 nangis dan yang dipanggil bukan mamihnya tapi neneknya #jleb setelah digendong ibunya pun tetep rengek panggil neneknya. akhirnya digendonglah si kecil sm papihnya, dan seketika diam. 8 jam lebih si anak bercengkrama dengan kakek neneknya mungkin yang menyebabkan si anak lebih dekat dengan mereka.

2. Ibu B.
    Beliau seorang ibu dari 2 anak laki-lakinya. satu kelas 5 SD dan yang kedua 3 tahun, Kober. beliau bercerita anak yang pertama sedikit bermasalah, sampai si ibu dipanggil oleh psikolog dari sekolahnya mengenai anaknya yang sedikit bermasalah dengan kemampuan kontrolling emosinya. usut punya usut diceritakanlah tentang keseharian si anak, yang ternyata si anak ini diasuh oleh neneknya mulai dari kecil sampe usia 4 tahun. yang artinya pengasuhan kakek neneknya ini yang membentuk kepribadiannya yang manja dan satu hal kurangnya kebersamaan dengan orang tua yang menyebabkan perasaan kurang diperhatikan. satu hari si anak bertanya tentang mamahnya, kenapa harus bekerja ?? si ibu bilang "Biar bisa belikan mainan untuk dede". walapun sebetulnya bukan itu alasannya.

3. Ibu C.
    Seorang ibu dari satu anak, yang juga dilema untuk bekerja. tapi dengan banyak hal pertimbangan akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja. si anak berencana untuk masuk daycare tapi karena si nenek seolah ga rela cucunya masuk penitipan #fikirnyabakalditelantarin, diasuhlah sm neneknya. sampe akhirnya usia si anak menginjak 7 bulan, banyak hal yang belum dicapai seperti kemampuan merangkak, malas untuk bergerak karena banyaknya digendong si nenek.

4. Ibu D.
    Sama seperti cerita Ibu A. tapi ibu yang satu ini  bukan diasuh sm neneknya tp ada pengasuh tersendiri -baby sitter-. satu malam si anak merengek, nangis dan yang dipanggil pun bukan ibunya tapi si mba nya #jlebjuga.

saya pun disini sebagai seorang ibu pekerja, merasa dilema dengan keputusan untuk masih tetap bekerja. mengingat rasanya perkembangan anak itu wajib kita pantau, karena apapun yang terjadi di masa golden agenya akan mempengaruhi karakter dan masa depannya. tapi sama seperti para ibu diatas, ada hal pula yang belum dapat saya tinggalkan pekerjaan ini. tapi bagaimana pun caranya saya akan berusaha mengimbangi dengan perkembangan anak.

berbicara tentang daycare,, satu solusi untuk para ibu pekerja. ya,, bukan hanya sekedar penitipan yang hanya tidur makan main. tapi ada satu edukasi yang membantu terhadap perkembangan anak, adapula monitoring tentang perkembangan anak melalui psikolog.

apapun itu penitipan anak atau baby sitter, saya rasa pengasuhan yang paling terbaik adalah dari ibu dan ayah.

to be continueddd ................