Senin, 25 April 2016

Monster itu Bernama Postpartum Depression

0

Menyambung tulisan saya sebelumnya, kali ini saya akan mengulas tentang bagaimana Postpartum Depression (PPD) itu menyerang si ibu. kisah berikut ini saya kutip dari laman facebook tentang seseorang yang istrinya pernah mengalami PPD, berikut kisahnya :

Kepada para suami, dimanapun kalian..
Perkenalkan, saya Topan Pramukti, bapak satu anak yang pernah menyaksikan istri berjuang melawan Post Partum Depression. Pernah dengar? Saya tidak akan menjelaskan secara teori, di sini saya hanya ingin memohon agar kalian duduk sebentar, luangkan waktu barang 10 menit untuk membaca cerita saya ini sampai habis. Saya mohon.
Namanya Bunga, seorang teman saya yang tentu bukan nama sebenarnya. Beberapa waktu lalu ia melahirkan anak pertamanya. Kalau kalian pikir dia sekarang sedang di puncak bahagia, kalian salah. Hari-harinya, saat ini, dilalui dengan penuh air mata dan rasa cemas. Berkali-kali dia harus melawan dirinya sendiri, saat pisau di dekatnya kerap dia todongkan pada bayinya. Berkali-kali pula dia nyaris kehilangan nyawa, sebab baginya, pilihan hanya dua: dia atau anaknya yang mati.
Suaminya kemana? Ada. Mereka tinggal satu rumah dan tidur satu ranjang. Hubungan mereka baik-baik saja dan keluarga mereka (kelihatannya) normal dan bahagia. Tak ada masalah, tak pula ada orang ketiga. Ekonomi keluarga sedang berada di titik baik, pun kesehatan, semua baik.
Namun Bunga tetap meneteskan air mata setiap hari, dia tetap sesungukan, menangis, dan butuh pertolongan. Ibu muda itu sebisa mungkin menghindarkan pandangannya dari pisau atau benda tajam apapun, karena bisikan jahat itu bisa datang kapanpun dimanapun. Bunga selalu tidur membelakangi bayinya, karena untuknya, berhadapan adalah drama berujung histeris semalaman.
Bunga gila, ya? Bukan.. Dia adalah ibu yang menderita Post Partum Depression.
Cerita lain datang dari Lala, lagi-lagi bukan nama sebenarnya. Satu dari lusinan perempuan yang menjadikan istri saya, tempat mencari pertolongan. Saya tak pernah mengenal perempuan ini, seperti saya tak pernah mengenal perempuan-perempuan pencari pertolongan lain yang berderet di daftar kontak hape istri saya. Yang saya tau, ada seorang ibu muda tiba-tiba menulis pesan pada istri saya di twitter. Meminta nomer hape karena dia butuh diselamatkan. Satu alarm yang membuat istri saya langsung memberikan kontak padahal belum kenal: dalam pesannya dia menyebut-nyebut Post Partum Depression.
Singkatnya, Lala dan istri saya berkomunikasi lewat aplikasi whatsapp. Lala mengaku sering mendapati tubuhnya membiru, dingin, dan gemetar. Dia seperti mau mati, katanya. Lala takut keramas, dia cemas saat bilas matanya harus tertutup, membuka mata dalam keadaan tak bernyawa. Lala takut keluar rumah, takut mati di jalan. Lala takut ketemu orang baru, takut dibunuh.
Lala gila, ya? Bukan.. Dia sama seperti Bunga, seorang ibu yang menderita Post Partum Depression.
Lala dan Bunga bukan cuma ada dua, mereka banyak. Istri saya kerap salah menyebut nama saking banyaknya yang harus diladeni curhat. Saking banyaknya yang tiba-tiba menelpon sambil menangis jerit-jerit. Padahal sederet nama di kontak hape kami, hanya yang diantar takdir untuk menemukan kami, sebagai sebut saja: penyintas Post Partum Depression.

Lala dan Bunga punya satu kesamaan, mereka merasa gila dan tak ada seorangpun yang peduli dengan itu. Termasuk suami. Orang yang setiap hari ada di samping mereka, satu-satunya manusia yang mereka harapkan dapat mengerti kondisi mereka, bergeming tak peduli. Mereka melawan sendirian, berjuang sendirian.
Dua setengah tahun yang lalu, istri saya adalah Lala dan Bunga. Ia pernah nyaris membunuh bayi kami. Dia, pernah hidup berhari-hari di kolong kasur karena takut mati. Saya, pernah menganggapnya sakit jiwa. Saya pernah memilih diam tidak peduli. Ia pernah berjuang melawan Post Partum Depression, sendirian.

Tapi di tengah perjuangan, dia melawan dengan sangat keras. Dia mengumpulkan artikel-artikel tentang Post Partum Depression dan memberikannya pada saya, memohon agar saya membacanya seperti yang saat ini saya lakukan pada kalian.
Istri saya menekuk lutut, mengatupkan tangan, menangis, dan memohon sejadi-jadinya agar saya mau membaca dan memahami kondisinya saat itu. Karena dia tahu, hanya saya yang bisa membantunya berjuang melawan. Menurutnya, hanya saya yang mampu menyelamatkan nyawanya dan bayi kami.
Dia memeluk saya kencang, meminta setulus yang dia bisa, membasahi dada saya dengan air mata, membiarkan hati kami yang bicara. Saat itu, dia mungkin tahu, tak ada satu katapun yang dapat meluluhkan hati saya. Belum banyak pengetahuan soal Post Partum Depression beredar di masyarakat, tak ada banyak teori yang bisa dia sodorkan untuk saya. Di mata saya, dia sakit jiwa.
Dia cuma punya mata basah dan hati yang meluluh paling luluh, tanpa bicara dia memohon, dengan sangat. Hati tetaplah hati. Mata saya ikut basah, kami berpengangan tangan dan berjuang bersama-sama.
Kami, berdua, melewati hari-hari paling sulit. Saat dimana keuangan keluarga carut marut, bayi kami merindukan ibunya, pekerjaan yang menumpuk, dan istri yang terus hidup di kolong kasur sambil menangis menggerung-gerung. Kondisi istri saya semakin tak terkendali, sudah tak dapat dihitung berapa kali tinju yang dilayangkannya ke tubuh saya, tembok yang dipukuli, dan pintu yang dibanting.
Kami, berdua, menjalani titik rumah tangga paling rapuh. Andai saja saya memilih menyerah, mungkin saat ini kami tak lagi bersama. Mungkin istri atau bayi saya sudah pergi menghadap Gusti, atau kami bertiga sedang menjalani hidup masing-masing yang entah seperti apa hancurnya. Andai saja waktu itu saya memilih menyerah, tetap tidak peduli, rumah tangga kami berakhir sudah.
Kepada para suami, dimanapun kalian..
Post Partum Depression adalah serangan depresi yang menyerang ibu paska melahirkan. Pintu masuknya, adalah depresi yang lebih ringan, atau terkenal dengan nama Baby Blues. Faktanya, 80 persen ibu yang baru melahirkan MENGALAMI BABY BLUES. Jadi mari kita simpulkan, bahwa Post Partum Depression sangat mungkin terjadi pada siapapun, termasuk istri-istri kalian.
Saya mohon, dengan sangat, kalau sampai itu terjadi, tetaplah di sana. Tetaplah di sisi perempuan yang kalian ikat dengan janji suci, peluk dia, dan ikutlah berjuang. Bertahanlah, wahai para Ayah.. Saya bersumpah atas nama Tuhan, bahwa Post Partum Depression bukanlah hal yang mudah untuk dilewati sendirian. Perempuan yang memelukmu sambil berurai air mata, benar-benar butuh pertolongan.
Cari sebanyak-banyaknya artikel tentang depresi ini, konsultasikan pada dokter atau ahli, genggam tangannya erat, terus berjalan dan menangkan perjuangan. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia.
Salam,
Topan Pramukti
Sumber : www.sujiwo.com
====================================
Cc Prakoso Bayu Adhi Widyanto
Bismillah, kelak si kecil hadir, tidak ada salahnya menyiapkan ilmu ini. Seperti katamu, hal yang demikian ini bila terjadi adalah bagian dari ujian, maka siapa saja dapat mengalaminya, termasuk istrimu ini. 5 tahun kita menantikan buah hati, dan bila Allah kehendaki ini terjadi, please stay with me, berjuang sampai menang. Saling mengokohkan pondasi taqwa dan keimanan, serta jadikan alquran sebagai penawar 


Satu lagi saya dapatkan kisah seorang ibu yang ternyata beliau adalah teman kerja di tempat pekerjaan saya sebelumnya. Dia bercerita tentang bagaimana Monster bernama Postpartum Depression itu menyerangnya. Sama halnya seperti diatas, keinginan-keinginan untuk bunuh diri atau membunuh anaknya yang kerap membayang-bayanginya.
Saya tidak akan mengulas lebih lanjut kisah beliau disini karena terlalu panjang, silahkan anda buka blognya https://langitamaravati.wordpress.com/2016/04/22/secabik-pesan-sebelum-saya-bunuh-diri




Dari sekelumit kisah diatas dapat saya ambil kesimpulan bahwa Postpartum Depression ini bukanlah hal kecil yang boleh kita biarkan ataupun kita diamkan. Harus ada penanganan khusus terlebih dukungan dari keluarga dekat terutama suami terhadap si ibu. Tidak ada satupun seorang ibu yang menginginkan hal ini terjadi, untuk itu ada baiknya kita sampaikan tentang Baby Blues Syndrome atau Postpartum Depression kepada kerabat sebelum si ibu melahirkan karena kita tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Saya tidak mengalami PPD tapi saya sendiri mengalami bagaimana Baby Blues Syndrome itu terjadi, seperti yang saya sampaikan sebelumnya Baby Blues Syndrome dialami 14 hari pasca melahirkan, dan ya saya mengalami itu. Saya mengalami ketika saya takut malam datang karena si anak bangun dan menyusui, yang mana ketika itu menyusui adalah ketakutanku yang terbesar, saya takut menyusui dan saya takut terjadi sesuatu pada anak terlebih ketika anaku kuning sampai saya katakan "saya akan berikan anak ini kepada orang lain untuk dirawat" karena saya merasa tidak mampu menjadi seorang ibu, saya sempat menangis sendiri, entah kenapa rasanya dengan menangis beban saya hilang. Dan ya saya termasuk orang yang beruntung -alhamdulillah- saya tidak mengalami Baby Blues yang berkelanjutan (Postpartum Syndrome). Baby Blues itu berlalu karena dukungan dari keluarga terutama suami yang senantiasa mendampingi, senantiasa memberikan pengertian, senatiasa mendengarkan, senantiasa memeluk dan menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dalam hal ini saya benar-benar takut terjadi sesuatu pada ibu penderita PPD, saya tidak ingin bayi yang tidak berdosa menjadi korban dari ganguan psikologis seseorang. Saya berharap semoga Allah selalu melindungi mereka -Aamiin Ya Robbal Alamin-




0 komentar:

Posting Komentar